
Seorang ibu terbangun dari tidurnya karena tangisan anaknya.
Ia mendatangi anaknya, tapi anaknya hilang. Ia menangis seperti orang gila… Ia melihat keranjang bayi, ia membukanya, dan…
***
Permulaan
Seorang ibu bangun tidur, ia mencari bayinya. Ternyata bayinya digendong oleh ayahnya, mereka sedang menggoreng telor bersama. (Keluarga bahagia😍).
Sebelum makan mereka berdoa dulu, mereka adalah Christiani yang taat. Karena sang suami adalah seorang pendeta.
Si bayi dibaptis percik, sebagai tanda penyerahan kepada Tuhan.
Mereka seperti keluarga yang sempurna.
Oo, ternyata si istri punya rahasia, dia merokok! Ngumpet ngumpet tentunya. Tapi ia terpergok oleh bapak pendeta senior.
“Jangan kuatir, aku disini bukan untuk menghakimi.”
Pendeta itu lalu memberikan sebuah hadiah berupa salib untuk Skya (si bayi).
Mereka duduk di sebuah tebing untuk menikmati pemandangan malam hari, tempat itu Magetto Fire Road. Terlihat lampu lampu kota yang indah..
***
Sang istri terbangun dimalam hari, suaminya tidak berada disisi nya. Ia mencarinya.
Suaminya sedang berdoa.
Bram bercerita kalau ia bertemu dengan Tuhan, ia yakin bahwa itu Tuhan sendiri yang menampakkan diri padanya. Seperti Musa. Ia sangat bahagia.
“Apa dia bicara padamu?”
“Oh Sarah, itu bagus. Ada begitu banyak cahaya. Dia bicara, suaranya melalui ku. Aku akan menjadi tangan kanan Nya.” Kata Bram berusaha menjelaskan.
***
Sebelum makan, mereka berdoa lagi. Bram terlihat sangat bahagia. Ia berangkat kerja sambil mencium istri dan anaknya.
“Jika terjadi sesuatu, segera kabari ya!” Kata istrinya
“Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku berpikir kita harus simpan ini untuk kita sendiri sampai kita dapat gambaran yang seluruhnya.”
“Tentu.”
***
Tetangganya yang homo datang kerumah dan memberikan makanan sebagai tanda keramahan tamahan.
***
Sarah menemui ibunya. Ibunya sangat bangga pada kehidupan Sarah yang begitu diberkati. Sangat berbeda dengan kehidupan Victoria dan dirinya.
Sarah sebetulnya jengah jika harus dibanding bandingkan. Tampil sebagai istri pendeta yang harus memiliki kehidupan sempurna membuatnya muak.
***
Sarah pulang disambut hangat oleh Bram.
(Makanan dari tetangganya itu dibuang oleh Bram??🤫).
***
Mood Bram sangat baik, ia membawakan kotbah dengan percaya diri. Dia merasa penuh dengan roh Kudus.
***
Suatu malam, Sarah terbangun. Ia melihat dikamar bayinya, ada Bram yang menggendongnya ditangan satu dan tangan satunya lagi membawa pistol.
“Bram, beritahu aku apa..” Tanya Sarah.
Bram menaruh pistol dikepalanya lalu. Dor!!!
Sarah terbangun, itu hanya mimpi buruk.
Ia menuju ke box bayi. Bayinya sedang tidur lelap. Bram ada disampingnya.
***
Penilaian
Sarah dan Bram menemui pendeta senior.
“Aku tidak mau kesini lagi.” Kata Bram
“Tak apa, ini keputusan ku, kita sudah mencoba menutupi itu.”
“Aku tau kelakuanku tidak seperti biasanya. Aku sudah memberitahu mu lagi dan lagi, disini ada suatu perubahan. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”
“Aku sudah memberimu waktu seminggu”
“Aku butuh lebih banyak waktu.”
“Apa yang kamu rasakan Sarah?” Tanya Pendeta.
“Aku frustrasi, aku merasa dia menyimpan rahasia.”
“Baik, Bram apa kau dengar apa yang Sarah katakan?”
“Ya, dan aku menghargai itu. Tapi jika aku memutuskan sesuatu yang terbaik, kurasa istriku harus menghormati itu.” Kata Bram
“Bram, kau belum tidur selama sebulan! Kau nyaris tak makan, kelakuanmu hampir seperti..”
Sarah, aku tidak minum, kau tahu itu” Bram langsung menyelanya seakan tau apa yang akan dikatakan Sarah.
“Ephesians meminta istri tunduk pada suami mereka seperti mereka tunduk pada Tuhan..,”
“Tapi Bram, apa kau sungguh tidak ada masalah?”
“Sejujurnya, aku hanya harus melakukan sesuatu. Aku butuh waktu.”
“Berapa lama? Aku tidak bisa hidup seperti ini. Kurasa kita harus menceritakannya ”
“Bramwell, apa yang dia maksud?”
Dengan terpaksa, Bram menceritakannya
“Aku dikunjungi oleh Tuhan.”
“Itu bagus.”
“Memang, Dia muncul dihadapan ku dan mengatakan hal penting yang akan terjadi pada Sarah dan aku .”
“Kapan itu mulai terjadi?”
“33 hari yang lalu.”
“Dan apa pernah terjadi lagi?”
“Setiap malam.”
(😪 Pantes gak tidur)
“Apa yang Dia katakan?”
“Jika aku tidak melakukan perintah Nya, kiamat tidak akan lama lagi. Dia tunjukkan padaku, kegelapan menutupi bumi ”
“Dan apa kehendak Nya, untuk mencegah hal itu terjadi?”
“Aku harus membunuh anakku satu satunya ” kata Bram sambil menangis.
(😱what?? Apakah itu benar benar suara Tuhan yang ia dengar?)
***
Pendeta senior mengatakan bahwa ada kemungkinan Bram salah mengartikan maksud Tuhan.
“Jangan resah lagi.”
Pendeta Uriel juga mengatakan, jika visi Bram tetap berlanjut, ia menyarankan untuk menemui lelaki baik yang takut akan Tuhan (psikiater).
***
Sarah terbangun lagi dimalam hari,
Ada Bram disamping box bayi. Ia tidak seperti dirinya sendiri.
“Beraninya kamu pertanyakan kehendaku! Kau ayunkan tinju padaku,”
“Bram, sadarlah.” Sarah ketakutan.
“Aku tidak mau diperintah! Pertama, kegelapan menutupi daratan, saudara melawan saudara, itu semua dimulai dari anakmu,”
“Bram, hentikan!”
“Kau belum belajar juga?arti dari penyerahan spiritual? Bramwell keluargamu harus tetap utuh sampai malam itu! Malam kau melepaskan putrimu dari yang lain. Semua yang mencampuri,”
“Hentikan sekarang!”
“Bawa kedepannya dan congkel jantungnya dari dadanya!!” Bram langsung pingsan.
***
Bram diperiksa MRI, dan hasilnya tidak ada yang salah secara medis. Jika secara medis tidak ada yang salah, kemungkinan itu gejala psikotik.
***
Sarah menjadwalkan kunjungan ke psikiater, Dr. Kore
“Aku akan kesana dan dia akan bilang aku gila. Memberiku segala macam obat atau mengirimku ke RSJ.” Bram kesal. Ia sangat yakin akan visinya.
Merekapun bertengkar.
***
Sarah tidur dengan Skya. Pintu kamar ia kunci. (Aku tidak bisa membayangkan hidup bersama predator setiap hari🤪, itu menakutkan)
***
Sarah menelepon ibunya, ia minta agar ibunya menjaga Skya beberapa waktu.
***
Sarah mengunjungi tetangga nya yang homo dan mengantarkan makanan.
Mereka berbincang bincang mengenai ‘pengkristenan’.
“Apa kau percaya tentang hal itu?” Tanya Gabe. Sarah terdiam. Hatinya mulai ragu.
Gabe membuang sampah dibantu Sarah, ia mengomel karena ada botol wiski ditempat sampahnya. Ia yakin, gelandangan pelakunya.
Gabe minum anggur, dan Joseph minum Vodka,. Jadi botol itu bukan milik mereka. (Jangan jangan Bram minum wiski tapi botolnya dibuang ke tetangganya supaya nama baiknya tetap terjaga 🤔)
***
Bram datang, dan menyapa Sarah dengan senyum. Tapi wajah Sarah tampak jutek.
“Apa kau sudah kedokter?”
“Sudah.”
“Apa kau benar atau kau bohong padaku?”
“Tolong jangan bicara begitu padaku. Aku bertemu dengannya dan bicara lama sekali. Sesiku dengannya lebih dari 40menit. Dia bilang jangan khawatir.”
“Aku ingin kau jelaskan tentang ini” Sarah menunjukkan botol wiski.
“Kau menyembunyikan rokok dimana mana aku tidak pernah membahasnya, karena itu privasi. Kau temukan itu ditempat sampah? Ditempat yang sangat dekat? Ya, itu punyaku.”
Bram lalu bercerita bagaimana mana ia merenungkan kehidupannya.
Ia pergi ke Maggeto Fire Road dan membeli banyak wiski. Sambil merenung, ia membuang wiski wiski itu. Karena tidak mau menyampah, ia bawa pulang botolnya. Hal itu sebagai pembuktian bagi dirinya sendiri, bahwa ia dan alkohol tidak ada keterikatan.
***
Bersambung part 2