Sinopsis Lavender

Lima… Empat… Tiga… Dua… Olly Olly oxen free..

1985

Mobil polisi datang memberitahu pemilik peternakan bahwa saudara dan keluarganya…

***

Disebuah rumah tak jauh dari peternakan, polisi berkumpul, di rumah itu terjadi pembantaian.
Ada seorang anak perempuan duduk sambil memegang pisau yang berlumuran darah.

*** Lavender ***

25 tahun kemudian.

Seorang wanita, jane. memiliki obsesi memotret rumah tua.

***

Anaknya perempuan merayakan pesta ulang tahunnya dengan gembira.

Hidup mereka bahagia, anak perempuan yang manis dan suami yang bisa diajak kerja sama untuk membesarkan anak.

***

Sesi konseling

“Orang tua ku meninggal kecelakaan ketika aku masih kecil.” Kata Jane

“Oh, tidak apa apa”

“Tapi rasanya seperti aku melupakan hal yang aku yakin penting. Aku tidak tahu itu apa. Aku menjadi tertarik dengan benda benda kosong ini, yang sebelumnya pernah ada kehidupan.”

***

Diperjalanan pulang, Jane menghentikan mobilnya dan mulai memotret rumah tua.

Anaknya bosan, ia berkeliling kebun dan mengobrol sendiri (🤔 apa dia indigo?)

Ia menemukan dipekarangan sebuah mainan seperti bintang.

***

Bel rumah berbunyi, tapi tidak ada siapa siapa. Sebuah kotak kecil ada didepan pintu.

Jane membukanya, sebuah mainan, kayak bintang dari monel.

***

Dalam tidurnya, Jane mengigau,

“Lima… Empat… Tiga… Dua… Olly Olly oxen free…”

Alice membangunkannya, ia ngompol.

***

Jane menatap untuk waktu yang lama sebuah foto rumah tua. Ia tersadarkan ketika Alan meneleponnya.

Ia lupa menjemput Alice. Ia sering lupa. Semakin hari semakin parah.

***

Dengan kecepatan kencang ia melaju kesekolah.
Ditengah jalan ia melihat seorang anak kecil rambut pirang panjang , ia menghindari nya. Lalu kecelakaan.

***

Jane sudah sadar, tapi ia hilang ingatan.

“Meski lukanya terbilang kecil, tapi itu bisa membuka luka lama yang sebelumnya pernah ada.” Kata dokter pada Alan. Sambil memperlihatkan foto luka lama ditengkorak, sudah 20 tahun lebih.

“Tengkorak istri mu mengalami retak ditujuh tempat. Bekas luka ini mengganggu memori jangka panjang. Ingatannya bisa pulih, tapi butuh waktu yang sangat lama.”

***

“Dokter Michaels minta agar aku bicara denganmu.”

“Oke.”

“Aku Liam, psikiater yang bertugas disini.”

“Aku tidak butuh itu.”

“Jane, aku bisa membantu. Aku bisa bantu merangsang pemulihan ingatan mu.”

Tapi Jane ogah ogahan diterapi.

***

Dr. Liam mulai sesi terapi.

“Otak adalah organ yang luar biasa, dia bisa menggabungkan kembali secara mandiri dan bisa memperbaiki diri sendiri. Bahkan membuat memori palsu demi melindungi kita.

Itulah kenapa kita harus merawatnya bukan hanya gejalanya.”

***

Ruangan Jane diketok, “masuklah!” Kata Jane. Tapi tidak ada siapa siapa. Hanya kotak kecil didepan pintu

“Kau mau membukanya? Kau menatap kotak itu selama dua menit!” Kata Liam mengagetkannya.

Kotak itu berisi boneka kecil yang biasa ada di kotak musik.

Dan foto sebuah rumah tua yang bertuliskan

“Oct 10, 1985”

***

Bel rumah Alan berbunyi, tapi tidak ada siapa siapa. Ia memeriksa sekeliling. Ada sebuah amplop coklat depan pintu.

Setelah membaca amplop itu, ia menggerutu, “oh, sialan!”

***

Alan datang kerumah sakit membawa amplop coklat itu

“Darimana kau mendapatkan ini?”

“Arsip pemerintah.”

“Tidak mungkin, orang tua angkatku pasti memberi tahu aku.”

“Jane, berkas ini tidak mungkin ada disini. Kau pasti yang memintanya ”

“Kapan?”

Jane menyangkalnya, tapi ia lupa semua. Ia lupa kalau dia pemilik rumah tua itu.

“Ada seseorang yang membayar pajak propertinya, namanya Patrick Ryer. Aku rasa, kau punya paman.

Itu menjelaskan kenapa kau terus mencoba memotret tempat itu ”

***

Dr. Liam menyarankan agar Jane mendatangi rumah itu..

“Mengunjungi rumah masa kecil mu, bisa merangsang ingatan yang tersumbat. Mengapa kau tidak mencoba menghubungi pamanmu? Habiskan waktumu dirumah itu.”

***

Akhirnya ia menelepon pamannya..

“Apa kau pamanku?” Tanya Jane cemas.

“Aku tidak melihatmu langsung, tapi iya.. aku yakin begitu.”

“Bolehkah aku kesana nanti?”

“Kau boleh kesini kapan saja.”

***

Jane sekeluarga memutuskan untuk menghabiskan waktu dirumah masa kecil Jane.

“Patrick?”

“Kau mirip ibumu.”

Lalu Patrick mengajak Jane berkeliling.

Patrick meminta maaf karena menaruhnya di panti asuhan. Ia tidak mengerti cara merawat anak. Ia lalu memberikan kunci rumahnya.

“Orang tuamu dan saudarimu meninggal dalam rumah itu.”

“Maaf.” Jane tidak ingat.

“Aku bodoh karena mengatakannya! Kalau perlu apa apa, kau tau cara menemukanku.”

***

Jane bersama Alan dan Alice memasuki rumah itu.

Alan dan Alice berkeliling, sedangkan Jane merasa gelisah.

“Ini sepertinya kamar ibumu waktu kecil.” Mereka lalu kembali berkeliling.

***

Jane dipekarangan, seakan ada yang mengawasi nya

***

Mereka berjalan jalan dipasar, Alan dan Alice bermain di labirin yang terbuat dari jerami.

Jane berada disebuah kios cinderamata. Pemilik kios memajang sebuah koran yang berisi berita tragedi pembunuhan sekeluarga.

Jane membacanya, tanggal berita dicetak Oct 11, 1985.

Tersangkanya adalah seorang anak perempuan, Jane Ryer.

Jane pucat setelah membaca berita itu.

Liam menelepon, Jane lupa janji konsultasi nya.

Jane melihat ada Liam disekitar situ, ia mengejar nya, sampai ditempat labirin jerami.

Ia tidak bisa menemukan jalan keluar. Ia akhirnya membobol labirin nya.

***

Jane masuk kedalam mobil, ada kotak kecil di jok. Ia melemparnya keluar. Tapi akhirnya ia ambil lagi.

Dalam kotak, ia menemukan sebuah potongan foto keluarga “Ryer family.” Ada dua anak dan ibu, tapi foto ayah terpotong.

***

Malam hari, Jane masih belum tertidur, Alice datang sambil memberi kode ‘jangan berisik’ 🤫.

“Sssttt… Mereka bisa mendengarmu.” Lalu Alice berlari pergi.

***

Jane mengikuti Alice, ia kesebuah ruangan, tempat tidurnya ketika masih kecil.

Ia melihat seorang ibu sedang membacakan cerita untuk anaknya.

“Alice.” Kata Jane

“Alice tidak ada disini sekarang!” Jawab alice. Alice lalu pergi meninggalkannya.

Ia melihat beberapa halusinasi. Bahkan ia hampir mencekik Alice ditempat tidurnya.

(Wah gangguan jiwa parah neh🤔)

***

“Saudaraku, suka mabuk, kadang kadang berengsek, tapi dia benar benar mencintai ibumu. Dia juga mencintaimu, nak.” Kata Patrick.

“Otakku kacau, apa aku membunuh mereka?”

“Satu satunya orang yang tau kejadian dirumah itu hanya kau.”

“Aku benar benar tidak bisa mengingat mereka.”

“Ayahmu dulu seorang penari, pekerja keras, dia lucu, dia bisa berperan menjadi apa saja.”

“Terima kasih.”

***

“Pagi, mami. Kau tampak lelah.”

“Bolehkah kita pergi ke danau bermain lempar batu ..pleeeeseee…..”

“Mungkin nanti.”

“Maaf kalau Suzie terus membuatmu terjaga tadi malam” kata Alice cuek

“Apa kau bilang?”

Alan datang menghentikan pembicaraan mereka.

Jane ingin segera pulang.

“Baiklah, setelah makan siang.” Kata Alan

***

Jane mengamati kamar Masa kecilnya.

Ia melihat gadis cilik rambut pirang panjang sedang berlari digudang, ia mengikuti nya ke gudang.

ia menemukan kotak nebu untuk asma. Ia seperti mengingat sesuatu.

Ia berhalusinasi lagi

(Sebagian besar film ini adalah tentang halusinasi, sampai bingung menceritakannya🤔).

***

Alan berkemas kemas, tapi Alice menghilang. Jane mencarinya digudang.

Ia melihat gadis cilik rambut pirang panjang, “kami tidak akan membiarkanmu pergi!”

Tiba tiba Alice muncul dibelakangnya.

***

Ban mobil bocor, bekas ditusuk. Alice kena asma.

Alan menggendong Alice untuk mencari pertolongan.

Jane memilih tetap tinggal dirumah, ia menyadari bahwa roh roh yang ada disitu tidak akan membiarkannya pergi.

***

Dikesendirian, ia mulai menggabungkan potongan potongan ingatannya yang kacau.

Ia bermain petak umpet dengan hantu kecil itu.

“Olly Olly oxen free..”

Ia membuka kotak musik, dan ia menemukan potongan foto ‘Ryer family’ lainnya. Ia menggabungkan foto jadi satu. Gambar ayah. Itu Liam!!

Flashback:

Patrick, pamannya suka memberi hadiah mainan pada Suzie, adiknya.

Pemberian itu bukan tanpa maksud, ia sering mencabuli Suzie.

Suatu hari, ketika orang tua mereka sedang tidak ada dirumah.

Jane dan Suzie bermain petak umpet, Olly Olly oxen.

Jane ngumpet dikolong ranjang

Tiba tiba Patrick datang membawa hadiah, ia mau mencabuli Suzie lagi.

Jane yang dikolong, melihat mereka, tidak berani keluar.

Liam pulang dengan mabuk. Ia langsung tertidur di sofa.

Mendengar ada yang datang, Suzie teriak. Ibu membawa palu, lalu naik ke kamar.

Ada Patrick dikamar, terjadilah perkelahian. Ibunya mati dipalu. Darahnya sampai dibawah kolong.

Jane ketakutan, ia langsung keluar, lari.

Suzie yang kaget, asmanya kumat. Ia mati sesak nafas.

Jane melukai Patrick dengan pisau cukur. Ia berlari lagi tapi menabrak Liam ditangga. Mereka berdua jatuh.

Liam mati, Jane pingsan.

Patrick menaruh palu ditangan Liam. Agar seakan akan Liam pelakunya. Ia pergi.

Jane ternyata masih hidup, ia duduk dipojokan berlumuran darah sambil membawa pisau.

Jane dituduh membantai keluarganya. Sedangkan ia sendiri hilang ingatan.

Ia merasa bersalah pada keluarganya karena ia berpikir dialah pelakunya. Jadi otaknya membuat ingatan palsu.

Karena itu ia sering berhalusinasi.

Sekarang Jane sudah mengingat semuanya. Ia lega. Ia juga tahu bahwa keluarganya menyayanginya

***

Alan kembali untuk menjemput Jane.

“Alice bagaimana?”

“Aku mengantarnya ketempat Patrick.”

“Apa?” Jane langsung berlari.

***

Alice mengingatkan Patrick pada Suzie.

Ia mulai mendekati Alice dan mengajaknya ‘permainan rahasia’.

“Mereka melarang aku bermain denganmu.”

“Siapa yang berkata jahat seperti itu?”

Alice enggan menyebutkannya.

Ketika Patrick melihat mobil Alan datang, ia mengajak Alice kekandang kuda. Ia juga membawa senapan

Ia menyandra Alice.

Tapi Jane ada dibelakangnya. Membawa sekop dan memukul Patrick.

***

Patrick dibawa ke kamar Jane waktu kecil. Tempat kejadian kejahatan.

“Aku mencintai saudaramu, dan itu suatu kesalahan.” Patrick memelas.

“Katakan itu pada mereka!”

Pintu ditutup.

Hantu hantu mendekati Patrick. Tidaakkk!!!!

***

Jane meninggalkan rumah itu dengan Alan dan Alice.

***

Jane mengunjungi makam keluarganya. Menaruh foto mereka bersama disana.

***

End

3 respons untuk ‘Sinopsis Lavender

Tinggalkan komentar