
Catatan penulis:
Terlepas dari kontroversi film ini, Mimin hanya menyuguhkan cerita tanpa bermaksud menyudutkan salah satu negara.
Hikmah dari film ini: kita hendaknya bersyukur karena masih bisa makan dengan layak. Karena masih banyak orang diluar sana, yang menderita kelaparan.
***
Film ini didasarkan pada sebuah acara yang terjadi di Hwang Hae Distric di Korea Utara.
Seorang anak laki laki membayangkan dirinya menjadi chef. Ia mulai memasak ayam dan membumbui nya.
Tapi itu hanya bayangan, bagi mereka, memasak ayam adalah sebuah kemewahan.
“Ibu, apakah ayam rasanya benar benar enak?”
“Tentu.”
“Tapi kata Sun g il, yang paling enak adalah daging anjing.”
“Dia tau darimana?”
“Ayahnya yang cerita padanya.”
“Lihat foto pernikahan ibu, kita sedang makan ayam. Ketika ayahmu tinggal di Jepang, ia sangat menyukai ayam, ia makan tiap hari.”
“Bohong.”
“Tidak.”
“Sekretaris Dang, orang paling kaya didesa kita tapi mereka hanya punya 10 ayam. Bagaimana mereka bisa makan ayam setiap hari?”
Ibunya tersenyum.
“Pasti menyenangkan jika bisa makan ayam setiap hari.”
Mereka lalu pergi tidur.
*** Winter Butterfly ***
Keesokan harinya,
Ibu memasak bubur untuk sarapan dan bekal makan siang.
Ibunya menaruh mangkok kecil telungkup di mangkok bubur, lalu menuang buburnya. Mangkuk bubur kelihatan penuh.
Jin Ho sedang mengasah gergaji nya.
“Jin Ho, sarapan!”
“Baik.”
Mereka sarapan bersama, Jin Ho makan dengan lahap.
Sung il datang menjemput Jin Ho.
“Kamu sudah sarapan?” Tanya ibu Jin Ho.
Jin Ho menatap Sung il tajam.
Ibu Jin Ho tersenyum, lalu mengambil sesendok buburnya lalu diberikan pada Sung il.
“Terima kasih banyak.” Kata Sung il senang.
Jin Ho dan Sung il pergi untuk mencari kayu bakar.
Rupanya Jin Ho marah pada Sung il karena Sung il meminta makanan pada ibunya.
(Bagi Jin Ho, makanan sangat berharga karena sulit didapat)
***
Ibu Jin Ho menjual kayu bakar di pasar.
Ia ingin membeli kue, tapi itu terlalu mahal baginya.
Seorang ahjussi, datang ke seorang penjual kue disebelahnya.
“Jin sook, gimana bisnismu?” Kata si Ahjussi sambil mencomot kue.
“Ini enak, beri aku 20.”
Si Ahjussi begitu royal, bahkan ia memberikan kembaliannya.
“Datanglah kerumah saya nanti malam.” Kata si Ahjussi genit.
Si Ahjussi hendak pergi,
“Ahjussi, apa anda perlu kayu bakar?” Kata ibu Jin Ho menawarkan.
“Kayunya benar benar bagus, sempurna untuk menyalakan api.” Katanya lagi
“Berapa harganya?”
“Hanya 10 per bundel, tapi jika beli 3 bundel, maka 29 dan 50 coin saja. Ini kayu ek, jadi tidak terlalu berasap.”
“Nyonya, ini bukan ek!”
“Sebagian besar ini ek. Ek murni.”
Si Ahjussi pergi tidak mau membeli, dia pelit!
***
Jin Ho membantu Sung il menggergaji kayu bakar karena gergaji Sung il tidak diasah
Ketika sedang mencari cari kayu, Jin Ho menemukan Jamur. Dia senang, lalu menyimpannya dalam tas.
Ia menandai daerah itu dengan kresek merah.
Jin Ho dan Sung il pulang membawa kayu bakar.
Mereka beristirahat dijalan dan saling menceritakan mimpi mereka.
Sung il ingin jadi tentara, karena akan mendapatkan banyak makanan.
Jin Ho ingin menjadi Chef, ia ingin memasak makanan yang lezat.
***
Ibu Jin Ho hanya mampu membeli beras dari hasil penjualan kayu bakar.
***
Jin Ho melewati perbatasan, yang dijaga oleh beberapa tentara. Tentara itu mengecek setiap batang kayu.
Seorang wanita pencari kayu bakar disuruh untuk menurunkan kayu miliknya.
“Itu kayu kering.” Kata wanita itu takut.
“Kamu menyebut ini kayu kering?”
Wanita itu langsung ditendang dan dipukuli.
Wanita itu terus memohon. Lalu ia dijambak, “karena pelacur seperti kamu! Sumber daya negara kita akan tipis!!”
Kayu wanita itu lalu disita petugas.
Kini giliran Jin Ho, ia disuruh membuka tas nya. Untungnya jamur sudah disembunyikan.
***
Ibu Jin Ho menunggu ditengah jalan. Lalu membantu membawa kayu dengan gerobak kecilnya.
***
Keesokan harinya, aktivitas seperti biasa.
Ibu memasak bubur dan Jin Ho mengasah gergaji.
Jin Ho merasa sedih, ibunya semakin hari semakin kurus. Bahkan sampai ibunya sakit, mereka tidak memiliki uang untuk membeli obat.
Sebelum tidur, Jin Ho kembali membayangkan jadi Chef dan memasak ayam.
“Ibu, kapan kakak pulang?”
“Kakakmu? Mungkin beberapa tahun lagi.”
“Jika dia pulang nanti, apakah dia akan membawa makanan enak?”
“Tentu.”
“Aku harap dia membawa ayam.”
“Kalau begitu, tulislah didalam surat.”
“Aku pasti menulis nya.”
Mereka lalu bercanda bersama.
***
Keesokan hari, Jin Ho memberikan surat untuk kakaknya pada ibu nya agar dikirim.
Mereka lalu sarapan.
Sung il datang menjemput nya. Jin Ho kesal karena Sung il pasti akan minta makan. Jin Ho mengusir Sung il.
Jin Ho dimarahi ibunya karena tidak sopan pada Sung il,yang adalah teman Jin Ho satu satunya.
Jin Ho dan Sung il berkelahi.
“Lihat saja kalau kakakku kembali!”
“Kakakmu sudah mati! Semua orang tau ia dipukuli sampai mati karena mencuri makanan!”
***
Sakit ibu Jun Ho semakin parah.
***
Jin Ho terpeleset dan tidak sadarkan diri.
***
Ibu Jin Ho menunggu dengan cemas. Jin Ho tak kunjung pulang. Sedangkan Sung il sudah pulang sendiri tanpa Jin Ho.
Ia menanyakan pada petugas penjaga perbatasan, tapi mereka acuh tak acuh.
Ibunya menyusuri jalan setapak mencari Jin Ho.
***
Keesokan harinya Jin Ho tersadar, kakinya terluka. Tapi ia memaksakan diri untuk tetap membawa kayu bakarnya. Karena kayu itu rencana nya akan di belikan obat untuk ibunya.
Sampai malam hari, Jin Ho belum sampai dirumah. Ia tersesat.
Ibu Jin Ho melaporkan pada polisi bahwa anaknya hilang, tapi ditanggapi asal asalan oleh petugas polisi.
***
Ibu Jin Ho semakin lemah, beras terakhir ingin ia makan, tapi diurungkannya. Ia sudah tidak makan beberapa hari.
Ia hanya minum air cucian jamur.
***
Ibu Jin Ho datang lagi ke kantor polisi.
Polisi makan dengan lahapnya. Lalu melempar makanannya untuk anjingnya. Ibu Jin Ho menelan ludah.
“Ahjumma, kamu pikir jika kamu tinggal disini sepanjang hari, anakmu akan ketemu? Jika aku jadi kamu, aku akan mencari nya sendiri! Apa kamu menyebut diri seorang ibu?” Kata si petugas kasar.
(Kalo saya ada disitu, sudah tak bacok petugas macam itu!!😤)
***
Jin Ho minum air kubangan lalu berbaring lelah. Ia melihat kresek merah yang dulu ia gantung sebagai penanda lokasi jamur.
Ia memasukkan jamur jamur itu dalam tas.
***
Ibunya hanya minum air untuk menahan lapar, tapi ia tak tahan lagi. Beras terakhirnya langsung dimakan tanpa dimasak.
***
Dengan susah payah, jin Ho berhasil keperbatasan.
Petugas busuk yang berjaga disitu merampas kayu bakar nya.
“Jika kamu tidak mau dipukul, taruh kayunya lalu pergi dari sini!”
“Tidak mau! Ini benar benar kayu kering!” Jin Ho memeluk erat kayunya.
Petugas merampasnya dengan kasar sehingga tangan Jin Ho terluka.
Para petugas tidak mempedulikan jin Ho, mereka melanjutkan minum minuman keras
***
Jin Ho pulang kerumah dengan lemas, tak sadarkan diri.
Ibu membasuh lukanya dengan air. Lalu menangis dengan sedih.
***
Keesokan harinya Sung il lewat rumah Jin Ho, tapi karena ia melihat cerobong asap tidak menyala, berarti ibu jin Ho tidak masak, ia melanjutkan perjalanan nya.
***
Tidak ada lagi kayu untuk dijual. Itu berarti mereka tidak bisa membeli beras.
Didepan foto Kim Jong XX,
si ibu berdoa sambil menangis,
“Tolong selamatkan aku, pemimpin kami Kim Jong XX …selamatkan Jin Ho! Cabut nyawaku sebagai gantinya! kamu belum pernah menolong kami, kumohon bantulah kami kali ini! Beri kami makan, sekali saja!”
***
Keesokan harinya, Sung il lewat lagi, cerobong asap masih belum menyala. Ia melanjutkan perjalanan nya
***
Jin Ho dan ibunya terbaring lunglai. Mereka hanya bisa minum air.
Ibu jin Ho membawa karung dengan senang,
“Jin Ho bangun! Ayo sarapan.. kita punya ini banyak dikebun. Ayo makan!”
Ibu memakannya dengan lahap.
“Ibu, ini bukan beras! Itu tanah!”
(Ibu jin Ho sudah mulai berhalusinasi 😨)
***
Hari berganti hari, mereka terbaring lemas ditempat tidur.
Ibu melihat foto roti dan ayam di foto pernikahan, lalu foto itu dimakan!😨😭
(Ibunya sudah tidak waras 😭)
Si ibu terbangun dari tidurnya, ia melihat anjing sedang minum dirumahnya.
Dia mengambil alat pemukul, dan mulai memukul si anjing sampai mati. Lalu memasaknya.
Ternyata itu bukan anjing, tapi Jin Ho!!😱😱😱
Lalu ia menggunakan foto Kim Jong XX untuk menyalakan api.
***
Sung Il lewat, ia melihat cerobong asap rumah jin Ho menyala.
Ia mampir, mau minta makanan.
***
Masakan sudah matang, ibu Jin Ho makan dengan lahap. “Daging anjing lebih enak dari ayam, anakku, kupikir aku berbohong lagi padamu!”
***
Sung il melaporkan ibu Jin Ho pada polisi.
Ibu Jin Ho meminta pengampunan karena membunuh anjing orang lain.
Ia juga memohon agar bisa menyimpan sup sehingga Jin Ho bisa makan.
***
End
Ini film tahun berapa?
SukaSuka
Tahun lama banget… Saya lupa
SukaSuka
Ngeri >_<!
SukaSuka
Iya… Saya lihatnya juga ngeri.. setiap kali lihat film ini, saya selalu merasa bersyukur kalau saya masih bisa makan sampai saat ini
SukaSuka