
Seorang wanita menjahit baju kembar anaknya. Kembar Siam.
***
Seorang wanita masuk dalam apartemen nya, teman teman mengejutkannya. Merayakan ulang tahunnya.
******* Alone ********
Kue ulang tahun dipotong. Pim melarang suaminya Wee makan kue ulang tahun karena manis, Wee kena diabetes.
Lalu teman Pim mulai meramal kartu:
“Kau harus mulai mengerti orang lain, kau tidak boleh egois,” ia lalu membuka kartu yang lain.
“Barangmu yang hilang, akan kembali lagi. Apakah kau ada kehilangan sesuatu? Barang lama?”
“Tidak”
“Mungkin saja ini bukan barang, seseorang atau semacamnya. Dia akan menagih atau mengembalikannya.”
“Ramalan nya jangan dipercaya, dia dulu meramalku dapat jodoh, nyatanya sampai sekarang aku masih saja melajang.” Kata teman yang lain. Mereka tertawa
***
Pim menyuntikkan insulin keperut Wee.
Mereka mendapat telepon. Dari pihak rumah sakit, ibunya Pim sakit parah. Mereka harus kembali ke Thailand.
***
Pim berkaca, perutnya ada bekas operasi besar. Pim bermimpi buruk mengenai operasinya dulu.
“Aku merasa bersalah pada Ploy.”
“Ini bukan salahmu.” Wee mencoba menghiburnya.
***
Mereka sampai di Thailand lalu menengok ibunya yang dirumah sakit.
“Dia lumpuh dan tidak bisa bicara, begitu banyak pendarahan dikepalanya, sehingga tidak berani operasi sampai kondisinya stabil.’ kata dokter.
***
Pim dan Wee tinggal dirumah Pim yang dulu.
Banyak benda kenangan Pim dimasa kecil bersama kembarannya Ploy. Piano, baju, sepatu, meja rias, kotak musik, album foto mereka.
Masa kecil mereka sangat bahagia walaupun saling menempel. Karena mereka kembar Siam.
Ploy memakai kacamata dan Pim tidak.
Pelayan memberi tahu kalau kamar sudah siap.
Pim mandi, lalu mengambil handuk dalam lemari,
Ketika tertutup, ada gambar dua lingkaran yang saling menempel dicermin karena embun.
Pim langsung menghapus gambar itu dengan takut.
***
Pim tidur disebelah Wee, tapi di sebelahnya lagi ada hantu!. Ia kaget lalu membangunkan Wee. Pim dihantui.
***
Ibu Pim mulai sadar, Pim menemani disamping ranjang rumah sakit. Tapi mata ibunya seakan akan melihat sesuatu dan ketakutan.
***
Pim menanyakan keanehan rumah itu pada pelayan.
“Akhir-akhir ini ibu sering ketakutan, seakan melihat sesuatu atau ada sesuatu yang mengawasinya. Dan dia juga suka bicara sendiri.” Kata Noi.
***
Kata dokter kondisi ibu sudah stabil, besok bisa dioperasi .
Pim membeli minuman dimesin, ia dihantui seakan perutnya berdarah darah. Tapi itu hanya tumpahan air.
***
Pim memberi makan anjingnya, Lucky.
Ketika sedang mencari si Lucky, anjing itu terus menggonggong, Pim mencoba melihat apa yang membuat lucky seperti itu, tapi sesuatu mengagetkannya, ia terjatuh dari tangga.
Pim dibawa kerumah sakit.
Dirumah sakit, Pim kembali dihantui, ia memecahkan cermin dengan marah.
“Pim kenapa kau melukai diri sendiri? Kau ada masalah?” Tanya Wee
“Aku melihat Ploy, dia datang untuk membalas dendam.”
“Itu hanya pikiranmu, Ploy sudah tiada.”
Wee menyarankan Pim ke psikiater.
“Aku tidak gila!”
***
Si psikiater datang kerumah, Pim kesal, dia naik mobil dan tidak berhati hati sehingga Lucky tertabrak.
Pim sedih, tapi akhirnya ia mau diperiksa psikiater.
“Dibutuhkan seseorang untuk membimbingmu, untuk membedakan kenyataan dengan khayalan.” Bujuk si psikiater.
Pim lalu menceritakan kisahnya,
Ia memiliki saudara kembar Siam, menempel di perut. Mereka sangat dekat, jika Ploy sakit dan tidak mau minum obat, maka Pim rela yang meminum nya. Jika ada yang mengejek mereka, maka Ploy yang membela mereka.
“Lalu kenapa kau mengingkarinya?”
Pim menangis, “Aku ingin sendiri. Dan aku tidak pernah mengingkarinya.”
***
Si psikiater mengatakan pada Wee bahwa Pim hanya stress, sebaiknya mereka kembali ke korea. Jika tidak memungkinkan, mereka juga bisa mengajak ibu Pim ke Korea.
***
Pim memandangi laut, tiba tiba ia dihantui lagi, ada dua pasang tapak kaki disepanjang pantai.
Ia hanya mimpi buruk.
Sejak disitu, Pim selalu merasa dihantui.
***
Wee pulang kerumah, ia melihat Pim sedang dipeluk Ploy. Tapi itu hanya bayangannya.
***
Wee mencemaskan Pim, jadi ia berencana akan membawa ibu Pim ke Korea, jika kondisi ibu sudah stabil.
Flashback:
Wee memakai kursi roda. Dirumah sakit. Ia terpesona oleh Pim, tapi ketika ia melihat Ploy, ia tampak kecewa.
Pim sangat baik dan perhatian, Wee selalu mengawasinya. Ia melukis Pim dan Ploy. suatu ketika, gambarnya terkena angin, terbang ke bawah kaki Pim. Pim dengan tersenyum ia mengembalikannya.
***
Ibu Pim sadar, ia mencoba mengatakan sesuatu pada Wee.
***
Pim sendirian dirumah, tapi ia merasa seakan ada orang lain ditempat itu, ketika ia membuka kamar, ada kacamata. Kacamata yang biasa dipakai Ploy, ia ketakutan lalu memasukkannya kedalam laci lalu ia minum obat.
***
Pim mandi, ia dihantui lagi, seakan ingin menenggelamkannya.
***
Pim kembali menemui Psikolog, psikolog menyuruhnya melihat cermin, gambaran dia sesungguhnya.
Flashback:
Wee melukis Pim dan Ploy, tapi dalam hatinya, ia ingin Pim seorang, bukan Ploy.
Wee memberikan bunga pada Pim, tapi saat malam hari Ploy membuangnya, Ploy iri.
Wee sangat perhatian pada Pim dan memberikan kalung, Ploy melotot.
Saat Wee keluar dari rumah sakit, Wee ingin melihat Pim, Pim juga begitu.
Tapi Ploy tidak mau beranjak dari kamar rumah sakit. Bahkan Pim menangis , memohon agar bisa melihat Wee. tapi Ploy tetap tidak bergeming.
Wee menitipkan gambar untuk Pim sebelum pergi.
***
Pim mengunjungi makam Ploy, ia merasa bersalah.
***
Pim membeli anjing yang mirip Lucky. Ia memperlakukan anjing baru seperti Lucky.
Tapi Wee tidak bisa menyayangi anjing baru seperti ia menyayangi Lucky.
Pim kesal, lalu membunuh anjing itu
***
Flashback:
Wee melukis Pim seorang diri tanpa Ploy. Ploy merasa cemburu, ia menyobek lukisan itu. Sejak itu hubungan dua bersaudara itu tidak akur. Bahkan Ploy rela minum obat tidur segenggam, Ploy ingin mati.
Ibu yang sedih melihat kondisi anaknya, memutuskan untuk memisahkan mereka dengan operasi.
***
Kondisi mental Pim semakin parah. Ia membakar semua foto masa kecilnya, merusak meja riasnya. Ia frustrasi dan ketakutan. Ia akhirnya pingsan terkena pecahan genteng rumah kaca.
***
Pim dibawa kerumah sakit.
***
Wee menemui ibu Pim diruangannya, ibu Pim menarik kerah bajunya, membisikkan sesuatu.
Wee langsung menuju ke pemakaman.
Dibatu nisan, yang tertulis adalah nama Pim. Jadi selama ini yang tinggal bersamanya adalah Ploy.
(Selanjutnya saya akan menyebut Pim sebagai Ploy sesuai identitas sebenarnya)
***
Wee menemui Ploy untuk mengklarifikasi. Ploy menangis, karena ibunya sudah tiada. Padahal itu cuma pura pura.
Flashback:
Ploy mencabut selang oksigen ibunya. Ibunya mati kehabisan oksigen.
***
Wee mendesak Ploy menceritakan yang sebenarnya.
Flashback:
Pim menangis, ia ingin operasi pemisahan dengan Ploy, Ploy menolak. Mereka adu mulut, Ploy mencekik Pim sampai mati.
Ibu menyaksikan itu, agar dua duanya tidak mati, mereka harus segera dioperasi. Sejak saat itu, ibu tidak pernah memaafkan Ploy. Ploy berpura pura jadi Pim, Memakai kalung pemberian Wee untuk Pim.
***
Wee marah pada Ploy, ia menarik kalung Pim.
Ketika akan pergi, Ploy memukul Wee dari belakang.
(Ploy serem, lebih serem dari hantunya😰)
Wee terikat, Ploy datang membawa peralatan insulin. Lalu menyuntik Wee Dangan kasar.
“Kenapa tidak bisa mencintaiku? Padahal aku memiliki wajah yang sama dengannya!”
***
Noi, si pelayan datang disaat yang tidak tepat.
Apa yang terjadi pada Noi?😰 Noi mati dibunuh Ploy.
***
Wei berhasil melepaskan diri. Ploy mencarinya, mereka terlibat perkelahian. Rumah terbakar. Wee membanting lemari pada ploy dan berhasil keluar dari rumah itu.
Tapi Ploy, terjebak dalam lemari.
Pim ada disana, didalam lemari, menemaninya. Sesuai janji mereka, bahwa mereka tak akan terpisah. Aaaaaaa…!!!!
Api menghanguskan rumah itu.
***
Wee menaruh kalung dibatu nisan Pim.
***
End