Seorang pria bersiap siap pulang kerja. Ia naik lift tiba tiba liftnya anjlok, ditengah kepanikannya ia melihat bayangan setan dikaca lift.
*** Nightmare ***
Beberapa petugas membuka pintu lift.
“Kamu tidak apa apa?”
Tapi ia tidak menghiraukan mereka dan berjalan menuju parkiran mobilnya.
Sambil mengendarai mobilnya, ia mendengar kan siaran radio.
“Salah satu teman meninggalkan pesan dia berkata padaku, dia sering susah tidur. Dia ingin tahu apakah susah tidur bisa menular? Sebab dia menyadari satu persatu rekannya mulai susah tidur. Jika teman ini sedang mendengar acaraku. Yang ingin aku katakan padamu, aku juga tertular olehmu. Sebab aku mulai susah tidur. Jika benar begitu bisa membuat kamu merasa lebih nyaman, aku bersedia setiap malam menemanimu.”
***
Pria itu memarkir mobilnya lalu masuk kerumahnya.
Selesai mandi, ia tidak kunjung mengantuk.
Dipandanginya fotonya bersama kekasihnya (si penyiar radio).
Pria itu terjaga lagi! Ia mencoba tidur di sofa, tapi tetap tak bisa terpejam.
Ia keluar di balkon, ia memandangi seorang gadis yang sedang melukis disitu.
Gadis itu tinggal didepan gedung apartemennya, tepat satu lantai dibawahnya, jadi ia lebih leluasa untuk memandanginya.
Ia mengamati tiap gerak gerik wanita itu, ia terpesona.
Gadis itu berjalan ke balkonnya dan menikmati pemandangan bulan. Tiba tiba pembunuh datang dengan cepat membacoknya dan melemparkan gadis itu ke bawah.
Pria itu kaget, dan langsung lari menuju gedung sebelah…
“Pak, kamu melihat seorang pria?” Tanya nya pada petugas keamanan.
“Pria apa?”
“Pembunuh!”
Tung Ce lari mencari mayat si gadis, tetapi tidak ada. Bekas darah pun tidak ada.
“Mayat itu menghilang! Aku melihat seorang wanita didorong kebawah, mayatnya harusnya disini!”
“Apa?”
“Aku tinggal dilantai 26 dan wanita itu dilantai 25, aku melihat dengan jelas!”
“Lantai 25? Lantai 25 tidak ada penghuninya.”
“Tidak mungkin! Setiap hari aku melihat nya!”
Mereka berdua akhirnya masuk ke apartemen gadis itu. Dan memang kosong, tidak berpenghuni.
Tiba tiba ia terbangun dari mimpi buruknya.
“Sepertinya tidak cukup tidur.” Seorang wanita memberinya minuman, wanita itu kekasihnya.
Tung Ce lalu mengeluhkan pekerjaannya yang membuatnya lelah.
Ia kembali berbaring. Dia merasa kekasihnya agak berbeda, cara bicaranya seperti psikolog.
“Kemarin kamu memberitahuku, didepan rumahmu tinggal seorang wanita cantik.”
“Dia selalu muncul dimalam hari.”
Ia kembali menceritakan hari hari dia sibuk dan tidak dapat tidur. Ia menghirup udara segar dan melihat wanita itu.
“Aku jelas jelas melihat seseorang mendorong nya, tapi mayatnya tidak diketemukan. Dia biasanya muncul dimalam hari”
“Sudah berapa lama?”
“Sekitar sebulan.”
“kamu tau apa saja tentang wanita itu?”
“Aku bisa merasakan apa yang sedang dipikirkannya.”
Pria itu mulai bercerita dengan frustrasi.
“Kamu benar benar kelelahan, tidurlah dengan baik.”
***
Tung Ce pergi ke kampung halamannya. Ia naik bus.
Ditengah jalan, ia melewati sebuah rumah. Rumah dengan turbin didepannya, tampak tidak asing baginya.
Ia kembali berjalan, seorang pria yang agak kurang waras dengan sisir dikepalanya menyapanya.
“Besok, aku akan menikah, jangan lupa datang ya.” Sapa pria kurang waras itu.
“Baiklah.” Jawabnya tersenyum.
***
“Paman.”
“Sudah pulang ya?”
“Aku akan siapkan makanan.”
“Malam ini akan aku traktir makan.”
Mereka berbincang bincang. Paman nya adalah seorang guru. Paman juga menyuruhnya membawa kekasihnya kesitu, karena pamannya bisa melihat dari wajah, mereka berjodoh atau tidak.
“Tertulis juga diwajahnya paman, paman masih bujangan.” Godanya
Mereka terlihat sangat akrab.
***
Ketika dikedai makanan, mereka bertemu kepala desa.
Kepala desa menyapanya dan bercerita tentang masa kecilnya. Bagaimana pamannya begitu menyayanginya, bahkan saat ia tiba tiba jatuh sakit. Pamannya menggendongnya sampai tangannya hampir patah.
Seorang pria mengawasi mereka.
***
Ia terbangun lagi dimalam hari, lalu keluar dan menyusuri jalan dekat sungai menuju sebuah rumah. Ia melihat seorang anak kecil kerumah turbin itu.
Ia memasuki rumah itu, kosong seperti lama tidak dihuni.
Ia mengintip dicelah, ada seorang gadis, gadis itu dibacok sampai mati oleh seseorang, ia tidak melihatnya jelas.
Ia terjaga lagi! Ternyata itu hanya mimpi.
Kekasihnya ada disebelahnya, “kamu sudah tertidur selama lebih dari dua jam”
“Tadi kamu cerita tentang desamu.”
“Tadi aku mimpi kembali kedesaku, itu sama seperti masa kecilku.”
“Aku ingin menemani kamu kembali kedesamu.” Kata Yi Fan.
Mereka berbincang lagi.
“Kapan ye Kwan pindah?” (Oh jadi gadis yang didepan rumah pria itu namanya ye Kwan ๐ค, kok tau? Kenalan aja nggak)
“Satu bulan yang lalu, nenekku meninggal. Aku kembali ke desa. Aku membawa barang barang lamaku, aku bawa pulang.”
Sejak itu, ia mulai melihat ye Kwan didepan rumah. Wajahnya cantik.
(Ingatan si pria ini tampaknya berantakan๐คจ).
“Kamu mau dengar ini?” Yi Fan memutarkan sebuah lagu lama.
Tung Ce pernah mendengar lagu itu ketika masih kecil. “Saat itu seorang pria nyanyi lagu ini” katanya.
***
Flashback
Suatu hari datang sepasang suami istri. Pria itu dikirim untuk mengawasi air didesa kami. Istrinya cantik sekali. Si pria namanya Chien Kuo dan istrinya bernama Ro Siau Ye.
Mereka tinggal dirumah dengan turbin didepannya.
Kepala desa datang bersama asistennya menyambut mereka.
Anak anak kecil berkumpul didepan rumah turbin memandangi Siau Ye.
Seorang pria yang sedang membawa traktor nyungsep ke sawah karena terpesona kecantikan Siau Ye. Siau ye tersenyum.
Melihat Siau ye, pria itu langsung menyisir rambutnya.
Depan rumah Siau ye juga semakin ramai, banyak laki laki nongkrong disitu untuk sekedar memandang Siau ye.
“Kudengar Yen er punya penyakit, tak punya istri. Dia suka pada Siau Ye.”
“Lalu?”
***
Flashback
Chen Kuo disungai mau menangkap ikan. Ia menggunakan alat setrum ikan. Tapi sayang, ia kesetrum lalu mati.
Setelah kematian suaminya, Yen Er (pria yang suka menyisir rambut) itu datang dengan mabuk. Ia mengintip Siau Ye yang sedang mandi. Siau ye memergokinya, lalu mengusir Yen er dan mengancamnya pakai golok. Hal itu disaksikan oleh beberapa warga.
Ketika pagi hari, tukang sayur menemukan Siau ye dilantai tertutup bantal dengan bersimbah darah..
Diadakanlah interogasi, adik kepala desa yaitu Yen er, menjadi tersangka. Tapi karena kurang bukti dan Yen er jadi gila, akhirnya dibebaskan. Kasus itu tidak pernah terungkap.
***
“Pernahkah kau berpikir, Ye Kwan adalah Siau Ye?”
Ia mulai membandingkan
“Aku tidak bisa bedakan itu mimpiku atau kenangan ku.”
“Memori itu seperti puzzle, kamu mempersatukan satu demi satu. Ketika dikumpulkan akan menjadi gambar yang sempurna. Lalu ye Kwan ada diantara nya.”
“Jadi maksudmu, aku yang membuat ye Kwan?”
“Bagaimana kalau kita kedesamu dan bermain puzzle?”
***
Mereka turun bus. Menyusuri jalan, melewati rumah turbin.
“Mengapa disini seperti mimpiku?”
“Disini kita menemukan potongan puzzle nya”
“Aku merasa masih bermimpi.”
***
“Tung ce! Bawa istri pulang ya?” Sapa Yen er, sisir masih nyangkut di rambutnya.
***
Depan rumah paman, siswa siswi sedang bermain. Ada yang terjatuh jadi paman mengobati nya.
“Ini pacarku Yi fan.” Kata Tung ce mengenalkannya pada pamannya.
***
“Berapa lama kamu tinggal disini?” Tanya Yi Fan
“Aku besar disini, aku tinggal bersama nenek.”
“Bagaimana pamanmu? Dia hidup sendiri?”
” Waktu muda, pamanku tampan sekali. Saat itu dia patah hati jadi tidak ingin punya istri. Kasus Siau ye terjadi setelahnya.”
***
Mereka berjalan menuju rumah pensiunan polisi (pria ini yang mengawasi dikedai makanan). Dia dulu adalah polisi yang mengusut kasus pembunuhan Siau ye.
“Kami Tung ce, keponakan guru Feng. Kami ingin bicara sesuatu.”
Mereka membicarakan peristiwa pembunuhan Siau ye. Polisi itu tampak gugup.
“Aku gagal pecah kan kasus itu. Yen er jadi gila. Banyak kecurigaan sulit dibuktikan.”
Polisi itu mulai membuka berkasnya lagi.
“Siapa pelakunya jika bukan Yen er?”
***
Flashback
Yen er sisiran lalu mendatangi lagi rumah Siau ye.
“Siau ye .. panggilnya.”
Siau ye terbaring berselimut diranjangnya.
Ia mulai menggerayangi wanita itu, ketika selimut ia buka, ternyata Siau ye sudah berlumuran darah. Ia menginjak darah dan lari ketakutan
“Menurut catatan ini, jejak darah Siau ye ditemukan di sepatu Yen er. Siau Ye tewas dibacok tapi tidak ditemukan senjata yang membunuhnya.”
“Setelah Siau ye tewas, Yen er jadi gila. Tidak ada bukti, terpaksa melepasnya,”
“Terus terang, aku mengawasi seseorang. Salah satu orang didesa kita.” Katanya lagi.
***
Bersambung part 2 ya









